"The starting point of the
process of Islamization began thinking economists are aware of Islam or of the Muslim yaang matter, who is also an economist. They also realize that Islam regards to economics.
This realization is
not just based
on what the
Qur'an set on economic issues: spending treasures in the way of Allah, the prohibition against interest, and others. This is confirmed also as the Qur'an describes the way of life which is good and acceptable behavior in society., Distinguish the bad from the way of life and behavior that deviates."
Islamisasi
ekonomi diawali dari pemikiran para ahli ekonomi yang sadar akan islam. Mereka
menyadari bahwa islam harus ikut andil dalam ekonomi. Islam melarang riba atau bunga, tidak
berlebihan dalam membelanjakan harta di jalan Allah, dll. Para ahli ekonomi muslim dan ahli ekonomi non
muslim menyadari bahwa islam mampu memberikan pekerjaan bagi tenaga kerja di
kedua belah pihak.Proses islamisasi telah menciptakan perilaku dan susunan
kelembagaan yang dihasilkan dari sifat dasar islam untuk membantu mencapai
tujuan kebijakan-kebijakan ekonomi islam
·
- Karakteristik Berperilaku dan Kelembagaan Ekonomi yang berandaskan Islam
Ahli ekonomi islam mencatat
karakteristik pelilaku individu islam, yaitu:
1.
Pelaku
kegiatan ekonomi peduli terhadap sesama dan melaksanakan tujuan sosial dalam
semua aktivitas ekonomi seperti pengeluaran dan tabungan, investasi dan
produksi, perekrutan tenaga kerja dan pekerjaan.
2. Tujuan
sosial yang dilakukan oleh para pelaku kegiatan ekomi adalah pemenuhan kebutuhan
dasar manusia, stabilitas, dan pengembangan ekonomi.
3. Motivasi
kegiatan ekonomi untuk kepentingan dan keuntungan pribadi disandingkan dengan
dengan tujuan sosial dan kepedulian terhadapan sesama.
4. Setiap
invidu berusaha agar tidak berlebihan dan menghindari gaya hidup yang
bermewah-mewahan.
5.
Setiap
individu cenderung kapada kerjasama dan perundingan yang serupa dengan tujuan
untuk mencapai tujuan sosial.
6.
Para
wirausahawan membuat pilihannya untuk menyimpan pilihan untuk investasi.
Ahli
ekonomi juga telah mengidentifikasikan susunan kelembagaan yang merupakan
bagian dari
sistem islam, yaitu:
1.
Pegantian
bunga dengan sistem bagi hasil dalam perbankkan.
2. Pembuatan
uang melalui proses investasi, bukan melalui proses meminjam seperti pada
sistem kapitalis.
3.
Institusi
sosial, terutama milik negara.
4. Zakat
berperan sebagai sarana yang efektif untuk mentranfer sumber daya dari yang
kaya ke yang miskin dan untuk menciptakan kesadaran akan tujuan sosial.
5.
Pendapatan
minimum dipastikan untuk semua anggota masyarakat yang diharapkan agar bekerja
untuk mendapatkan pendapatan sesuai dengan kemempuan mereka.
Karakteristik
ekonomi islam ini berasal dari masyarakat islam sebagaimana yang telah
diperintahkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hal itu adalah penjabaran islam yang
dianjurkan mengenai cara hidup yang baik. Di tengah pengaruh kuat materialisme,
yang menganggap kelakuan dan kelembagaan ekonomi Muslim kontemporer sebagai
penyimpangan atas norma-norma materialis daripada penerapan ekonomi
konvensional.
- Alat dan Instrumen
Alat yang skarang
saat ini belum cukup untuk membuat suatu sistem ekonomi yang berlandaskan
islam. Perlu dibuat ketentuan-ketentuan yang baru dan juga instrumen baru dari
kebijakan bank pusat untuk mengontrol persediaan uang dan jalur investasi uang
kearah yang diinginkan. Dengan mempunyai model makro konsumsi, penentuan
pendapatan, dan pembagian pendapatan, kita dapat memaksimalkan berbagai fungsi
yang ada. Sedangkan zakat dan bagi hasil mempengaruhi pada keputusan untuk
berinvestasi, permintaan akan uang, dan pendistribusian pendapatan.
- Drawing upon the Legacy
Perkembangan fiqih oleh ahli ekonomi profesional
ternyata sangat produktif . Salah satu contohnya adalah peng-klasifikasi-an
dari faktor-faktor produksi tentang bagaimana pekerja diberi upah berdasarkan
hukum islam, apakah mereka dibayar gaji berdasarkan kontrak kerja atau apakah
mereka diberikan bagi hasil keuntungan, yang kemudian ikut juga menanggung
kerugian. Dengan banyaknya tesis yang sedang disusun mengenai perbankan Islam
(Syari'ah), pemikiran ekonomi, dan pengembangan ekonomi turut berkontribusi
dalam mengislamkan ekonomi. Program pengajaran ekonomi Islam dibeberapa
fakultas Syari'ah menyediakan lingkungan yang memperbolehkan penyatuan antara
warisan Islam dengan pengetahuan modern dibidang ekonomi. Namun belum
tersedianya literatur yang didesain untuk diruang kelas yang dapat digunakan
oleh guru maupun murid.
Salah
satu persoalan yang dihadapi oleh ekonomi islam ialah bisa atau tidaknya
mendapatkan solusi untuk permasalahan strategi pengembangan ekonomi.
- Program untuk Masa Depan
Mengadopsi
pendekatan multidisiplin yaitu orang-orang peduli terhadap sesama sehingga
tidak termotivasi hanya karena keuntungan pribadi dan Edukasi bisa menciptakan
dan mendukung perilaku yang mementingkan orang lain sehingga hal ini bisa
membuat orang bekerja untuk kebaikan bersama
Dibutuhkan
penelitian melalui pendekatan psikologi, sosiologi, sejarah, dan antropologi
terhadap anggapan tersebut yang mungkin juga akan menegaskan sampai mana
prinsip peduli terhadap sesama.
- Pembelajaran Empiris
Kita dapat
mengambil contoh pembelajaran empiris dari pengumpulan dan pengeluaran zakat
serta peniadaan bunga yang telah diterapkan di beberapa negara. Hipotesis yang berkaitan dengan
hal tersebut, dalam berbagai literatur perlu diadakan percobaan. Kemungkinan
dari pembelajaran empiris menggaris bawahi kebutuhan akan adanya hipotesis yang
lebih fokus dan lebih spesifik.
- Interakasi dengan Ilmuwan Syari'ah dan Ahli Ekonomi
Progress
lebih lanjut, ekonomi Islam membutuhkan kerjasama yang lebih dekat antara ahli
ekonomi islam dengan ilmuwan syari'ah serta antara ahli ekonomi islam dengan
rekan-rekan (terutama non muslim). Mereka mencoba menciptakan kebaikan bersama
dan menyelesaikan berbagai konflik antar kepentingan pribadi dan kepentinagn
publik. Tapi masing-masing melakukannya dengan cara sendiri-sendiri. Interaksi
yang baik dibutuhkan untuk kepastian dalam analisis yang sesuai dengan situasi
ekonomi internasional. Ekonomi Islam memiliki konsep yan bersifat
universal, oleh karena itu tidak hanya ditunjukkan untuk negara-negara muslim.
- Merealisasikan ide-ide
Beberapa
pemimpin negara Muslim mulai berkonsultasi kepada ahli ekonomi Islam dalam
strategi pengembangan, manajemen finansial, dan program kesejahteraan. Hal ini
merupakan titik kemajuan yang membuat permintaan baru atas disiplin ilmu ini
dan mengharuskannnya untuk pindah dari umum ke khusus dan dari akademis menjadi
praktikal dan operasional
- Program Pengajaran
Pendistribusian
yang lebih baik terhadap literatur yang tersedia serta usaha perencanaan untuk
persiapan material seperti textbook adalah prioritas utama. Namun ada hambatan
yang dihadapi ekonomi Islam, yaitu:
- Tidak sesuainya ruang belajar terhadap ilmu disiplin ini
- Tidak adanya material pengajaran yang sesuai
- Sulit dalam proses pengaksesan
- Kesimpulan:
Faktor terpenting
dalam mewujudkan program ini adalah kepemimpinan dan organisasi. Ekonomi
Islam telah membuktikan ketahanannya sejauh ini dengan membuat progress yang
signifikan hanya dengan sedikit bantuan institusional.






0 komentar:
Posting Komentar